Asal-Usul Syal Lurik

Jual Kain Lurik,Tas Lurik,Dompet Lurik

Asal-Usul Syal Lurik

Usia tenun lurik di Indonesia, hampir setua sejarah berdirinya bangsa ini. Dari sejak jaman Majapahit, tenun lurik sudah dikenal masyarakat. Lurik juga muncul pada relief Candi Borobudur. Dimana pada reliefnya tergambar seseorang yang sedang menenun dengan alat tenun gendong. Prasasti Raja Erlangga Jawa Timur tahun 1033 dan ada juga menyebutkan tentang kain tuluh watu. Sementara tuluh watu itu adalah salah satu motif klasik tenun lurik. Bicara tentang lurik dan sejarahnya kini akan saya bahas sedikit tentang Asal – Usul Syal Lurik.

Indonesia dikaruniai keragaman suku bangsa yang masing-masing memiliki budayanya sendiri. Hal tersebut terlihat pula pada cara berpakaian yang tidak sama antara satu suku bangsa dengan suku bangsa lainnya, berbeda dalam gaya, bentuk serta bahan yang digunakan, kemudian menjadi ciri khas masing-masing daerah bersangkutan. Demikian halnya dengan masyarakat Jawa di Yogyakarta, memiliki pakaian tradisional yang khas, yaitu salah satunya lurik.

Lurik merupakan nama kain, kata lurik sendiri berasal dari bahasa Jawa, lorek yang berarti garisgaris, yang merupakan lambang kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan maupun dalam pembuatan namun sarat dengan makna (Djoemena, Nian S., 2000). Selain berfungsi untuk menutup dan melindungi tubuh, lurik juga memiliki fungsi sebagai status simbol dan fungsi ritual keagamaan. Motif lurik yang dipakai oleh golongan bangsawan berbeda dengan yang digunakan oleh rakyat biasa, begitu pula lurik yang dipakai dalam upacara adat disesuaikan dengan waktu serta tujuannya.

Sekarang ini, Klaten adalah daerah yang paling perhatian terhadap keberlangsungan hidup tenun lurik. Tak salah jika ada yang menyebut bahwa Kabupaten Klaten itu merupakan ibukota tenun lurik. Pasalnya, tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) lurik menjadi andalan kota ini. Ada banyak sekali desa yang menjadi sentra pengrajin lurik. Salah satunya kecamatan pedan yang ada di kabupaten klaten. Bahkan jika kita memasuki atau melewati kota Klaten, maka di pintu masuknya kita akan menemui monumen berupa patung seseorang yang sedang menenun dengan ATBM. Monumen yang dibangun pada tahun 2012 ini, berdiri di Jalan Raya Jogja – Solo, atau lebih tepatnya di perempatan Rs.Tegalyoso, Klaten.

Dulu kala , ketika kain tenun lurik masih berada di jaman keemasannya, hampir semua penduduk yang ada di Klaten melakukan pekerjaan menenun. Jumlahnya ribuan. Keberadaan sentra tenun lurik menyebar di beberapa kecamatan antara lain, di Pedan, Cawas, Bayat, Juwiring, Karangdowo dan Delanggu yang terkenal dengan beras rojolele-nya. Namun seiring persaingan bisnis kain yang makin ketat, dimana pasar lebih memilih harga murah, maka keberadaan sentra tenun lurik semakin berkurang. Dan dari sedikit yang masih bertahan itu diantaranya adalah Desa Wisata Tenun Tlingsing dan Lurik Prasojo di Pedan.

pasmina syall

Asal-Usul Syal Lurik

Itulah sedikit mengenai Asal-Usul Syal Lurik dari www.anisalurik.com, semoga bermanfaat.

 

Pusat Grosir Kain Batik, Kain Lurik, Baju Lurik

Dikembangkan oleh LKP KEMBAR